Masih terngiang di ingatan saya berita tentang amukan api yang melumat sebagian pasar buku Palasari,
Akhirnya setelah sempat tertunda beberapa kali, di pagi Sabtu awal Januari yang dingin, saya segera menuju terminal Baranangsiang,
Matahari belum terlalu tinggi ketika saya sampai di terminal Leuwipanjang. Lalu segera mencari angkutan menuju terminal Kalapa. Dilanjutkan dengan angkutan 01 jurusan Kalapa – Caheum, yang melewati depan pasar buku Palasari. Dalam perjalanan menyusuri
Tiba di Palasari, saya nyaris tidak melihat perbedaan dengan suasana terakhir saya ke
Kali ini saya berburu buku-buku komunikasi. Untuk sementara, saya menahan hasrat untuk membeli buku sastra. Caranya, saya tidak melirik ke rak buku sastra agar tidak tergoda untuk memungutnya. Akhirnya berhasil juga, dari sekitar 20an buku yang saya ambil tidak satu pun buku sastra. Sebab saat ini memerlukan banyak buku ilmiah, untuk literatur dan referensi rencana saya menulis beberapa buku komunikasi. Memang, setelah menyelesaikan magister komunikasi pembangunan, saya terpancing untuk menulis buku ilmiah. Ingin menjadi sastrawan dan ilmuwan, suatu cita-cita sederhana.
Hampir dua jam saya terjebak di rak-rak buku. Memilih dan memilah puluhan judul buku berdasarkan prioritas. Menghabiskan anggaran yang setara dengan biaya hidup sebulan. Sebab tidak ada buku yang murah di
Setelah sholah dzuhur dan makan siang di belakang pasar, saya segera menghubungi kawan yang mengambil magister kenotariatan di Universitas Pajajaran. Kawan lama yang pernah agak dekat. Kami janjian ketemu di
Menjelang senja saya segera beranjak meninggalkan BIP, meninggalkannya, meninggalkan
Gerimis tidak menghalangi rencana perjalanan kami melewati liburan di wilayah Puncak, Jawa Barat. Bayangan udara dingin, jalan licin dan berkabut kalah oleh aroma jagung bakar, ayam bakar dan hijau lanskap alam yang membentang sepanjang mata memandang. Barangkali ini liburan terakhir kami, mahasiswa Magister Komunikasi Pembangunan IPB angkatan 2005, yang sebagian sudah mulai meninggalkan kampus. Liburan bersama menjadi sangat berharga di tengah kesibukan dengan berbagai aktivitas dan rutinitas yang cukup membelenggu.
Sebenarnya liburan ke Puncak adalah alternatif kedua, setelah rencana ke Kepulauan Seribu terhalang oleh gelombang pasang dan badai tropis. Tapi itu tidak masalah, sebab esensinya adalah kumpul dan tertawa bersama: melepas suntuk karena tesis yang belum selesai dan sederet cerita yang mewarnai studi. Untungnya saya masih bisa masih menikmati liburan ini, sebab beberapa hari sebelumnya sudah ujian akhir dan lulus. Namun beberapa teman? Ah, lupakan sejenak urusan kampus! Liburan hanya untuk senang-senang dan melegakan pikiran.
Jadilah saya, Pak Ponti (saat ini sudah pulang
Jalan sempit, berliku dan terjal menghantarkan kami menuju lereng Gunung Gede - Pangrango. Tujuannya ke Kawasan Agropolitan yang letaknya persis di lereng gunung. Selly dan Ikhsan yang sebelumnya pernah melakukan penelitian di
Setelah istirahat sejenak, kami kemudian menelusuri jalan setapak. Menyapa petani sayuran yang sedang panen. Beragam komoditi sayuran di tanam di
Untung segera sampai
Tak ada yang mandi sore hari! Dinginya udara dan air pegunungan cukup menjadi alasan. Malam pun merambat perlahan-lahan, sehingga lampu-lampu di lembah mulai terlihat seperti ribuan kunang-kunang. Perut mulai keroncongan. Beberapa ekor ayam dan sekarung jarung sudah menunggu. Maka Ikhsan sang kepala suku segera menyiapkan alat pemanggang di depan
Ayam bakar, sate ayam dan jagung bakar cukup untuk menenangkan perut. Rasanya pun tidak kalah dengan buatan warung makan di sekitar kampus. Malah terasa lebih nikmat, apa karena dingin ya? Entahlah, yang jelas makanan itu tak tersisa. Segelas kopi melengkapi kehangatan suasana malam itu. Suara gitar menambah suasana menjadi meriah, mengalahkan desahan angin yang bergesekan dengan dedaunan.
Di lembah, kembang api beberapa kali memercik ke angkasa. Menebar pesona di antara lampu-lampu. Kami melihat itu, sambil mendendangkan lagu-lagu yang membuat hanyut pada suasana riang gembira. Sampai gerimis tiba dan memaksa kami kembali ke
Waktu tidur pun tiba. Tapi tidak berlangsung lama, karena teriakan angin segera membangunkan kami. Malam itu hujan badai membuat risau, suaranya mendesau. Membuat cemas, sebab akhir-akhir ini bencana terjadi di mana-mana. Kami takut
Nasi goreng, jagu bakar dan segelas kopi menyambut pagi kami dengan hangat. Sebab matahari sampai tengah hari tak juga menyapa. Kalah oleh kabut yang menyelimuti gunung. Gerimis turun berkali-kali, menjebak kami di dalam