solilokui
| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Sunday, January 13, 2008
Masih terngiang di ingatan saya berita tentang amukan api yang melumat sebagian pasar buku Palasari, Bandung, akhir Agustus 2007 lalu. Meskipun bukan kebakaran hebat, tapi dampaknya begitu terasa bagi banyak pecinta buku. Sebab pasar buku Palasari sudah menjadi salah satu ikon wisata Kota Bandung. Tempat banyak orang mencari buku murah, berwisata buku sambil menikmati keindahan kota kembang yang katanya jelita itu. Sebenarnya saya sempat enggan datang ke Bandung, karena tidak sanggup menyaksikan puing-puing di lokasi yang wajib saya singgahi, setiap mengunjungi kota yang jaraknya kurang lebih tiga jam perjalanan dari Bogor itu. Tetapi ternyata Palasari sudah kembali bergeliat, tidak sampai dalam hitungan bulan sejak kebakaran kontroversial tahun lalu. Saya pun ingin datang ke sana.


Akhirnya setelah sempat tertunda beberapa kali, di pagi Sabtu awal Januari yang dingin, saya segera menuju terminal Baranangsiang, Bogor. Sebuah bus telah menunggu dengan penumpang hampir penuh. Saya mengira perjalanan akan melewati kawasan Puncak yang terkenal macet setiap akhir pekan. Namun ternyata melalui rute tol Cipularang, sehingga waktu tempuh menjadi lebih cepat. Hamparan perbukitan dan persawahan berjejer sepanjang jalan dengan eksotis. Itulah salah satu lekuk tubuh “Priangan Si Jelita” seperti disebutkan penyair Ramadhan KH.


Matahari belum terlalu tinggi ketika saya sampai di terminal Leuwipanjang. Lalu segera mencari angkutan menuju terminal Kalapa. Dilanjutkan dengan angkutan 01 jurusan Kalapa – Caheum, yang melewati depan pasar buku Palasari. Dalam perjalanan menyusuri kota Bandung dengan angkutan sekitar setengah jam itu, kesan “Priangan Si Jelita” perlahan memudar seiring dengan tumpukan sampah dan kekumuhan yang terlihat hampir sepanjang jalan. Plus kemacetan karena lalu lintas yang kurang tertata, pengemudi yang tidak disiplin, serta sumpah serapah di antara klakson kendaraan yang bising. Melihat itu, saya teringat dengan salah satu lirik nakal Doel Sumbang yang menyebut “kota kembang kini menjadi kota kambing.” Lho kok?!


Tiba di Palasari, saya nyaris tidak melihat perbedaan dengan suasana terakhir saya ke sana, beberapa bulan sebelum kebakaran. Benar, amuk api tidak membakar seluruh bagian pasar. Tidak seperti berita yang saya dengar dari beberapa media. Saya kemudian segera masuk pasar, ke los belakang menuju toko buku langganan, Bandung Book Centre (BBC). Aroma kertas segera menghampiri indra penciuman saya begitu sampai di toko buku dua lantai itu. Saya suka ke toko buku itu karena koleksi bukunya paling lengkap, tumpukan bukunya tersusun rapi berdasarkan topik sehingga mudah mencarinya, dan tidak perlu tawar menawar karena semua buku dipastikan diskon 30% dari harga normal.


Kali ini saya berburu buku-buku komunikasi. Untuk sementara, saya menahan hasrat untuk membeli buku sastra. Caranya, saya tidak melirik ke rak buku sastra agar tidak tergoda untuk memungutnya. Akhirnya berhasil juga, dari sekitar 20an buku yang saya ambil tidak satu pun buku sastra. Sebab saat ini memerlukan banyak buku ilmiah, untuk literatur dan referensi rencana saya menulis beberapa buku komunikasi. Memang, setelah menyelesaikan magister komunikasi pembangunan, saya terpancing untuk menulis buku ilmiah. Ingin menjadi sastrawan dan ilmuwan, suatu cita-cita sederhana.


Hampir dua jam saya terjebak di rak-rak buku. Memilih dan memilah puluhan judul buku berdasarkan prioritas. Menghabiskan anggaran yang setara dengan biaya hidup sebulan. Sebab tidak ada buku yang murah di Indonesia. Kegilaan saya terhadap buku sebenarnya tidak seberapa, dibandingkan sebagian orang yang mencari buku sampai trance. Sambil melenggang keluar pasar saya teringat salah satu judul buku tentang buku, “Aku Buku dan Sepotong Sajak Cinta.”


Setelah sholah dzuhur dan makan siang di belakang pasar, saya segera menghubungi kawan yang mengambil magister kenotariatan di Universitas Pajajaran. Kawan lama yang pernah agak dekat. Kami janjian ketemu di Bandung Indah Plaza (BIP). Saya pun segera mencari angkutan kota menuju ke sana, meskipun sempat kesasar karena lupa berhenti di perempatan dekat plaza. Dia sudah menunggu di depan, lalu mengajak saya menuju foodcourt di lantai atas. Memesan dua gelas ice cappucino, kopi yang menurut Dee dalam “Filosofi Kopi”nya, sebagai kopi paling genit. Kesegaran cappucino menemani kami ngobrol sekitar dua jam, tentang apa saja, dari yang paling serius sampai paling tidak serius.


Menjelang senja saya segera beranjak meninggalkan BIP, meninggalkannya, meninggalkan kota Bandung. Angkutan jurusan Dago – Kalapa telah menunggu di depan plaza, kemudian disambung angkutan jurusan Kalapa – Leuwipanjang. Tiba di terminal hari sudah mulai gelap. Sebuah bus AC jurusan BandungBogor mengantarkan saya pulang. Menembus kemacetan kota yang dipenuhi mobil-mobil dari Jakarta. Melewati Cianjur dan kawasan puncak di malam hari, yang dari atas terlihat indahnya ribuan lampu yang bertaburan di lembah Bogor. Menjelang tengah malam saya sudah tiba di rumah. Lelah!***

Friday, December 28, 2007
Kabut beriring di lereng gunung
Menari menuju lembah
Matahari masih tampak murung
Wajahnya pucat dan gelisah

Gerimis tidak menghalangi rencana perjalanan kami melewati liburan di wilayah Puncak, Jawa Barat. Bayangan udara dingin, jalan licin dan berkabut kalah oleh aroma jagung bakar, ayam bakar dan hijau lanskap alam yang membentang sepanjang mata memandang. Barangkali ini liburan terakhir kami, mahasiswa Magister Komunikasi Pembangunan IPB angkatan 2005, yang sebagian sudah mulai meninggalkan kampus. Liburan bersama menjadi sangat berharga di tengah kesibukan dengan berbagai aktivitas dan rutinitas yang cukup membelenggu.

Sebenarnya liburan ke Puncak adalah alternatif kedua, setelah rencana ke Kepulauan Seribu terhalang oleh gelombang pasang dan badai tropis. Tapi itu tidak masalah, sebab esensinya adalah kumpul dan tertawa bersama: melepas suntuk karena tesis yang belum selesai dan sederet cerita yang mewarnai studi. Untungnya saya masih bisa masih menikmati liburan ini, sebab beberapa hari sebelumnya sudah ujian akhir dan lulus. Namun beberapa teman? Ah, lupakan sejenak urusan kampus! Liburan hanya untuk senang-senang dan melegakan pikiran.

Jadilah saya, Pak Ponti (saat ini sudah pulang Pontianak dengan MSi di belakang namanya), Alif, Haris, Firmanto, Rizka, Selly, Muslim, Ikhsan, dan si kecil Nabilah menembus jalanan macet menuju Puncak. Perlengkapan barbeque sudah menumpuk di bagasi. Tunggu apa lagi? Akhirnya roda kendaraan perlahan-lahan menanjak di tengah hujan, kabut dan macet. Kami berhenti sejenak di Masjid At Ta’awun untuk menunaikan sholat zhuhur, setelah sebelumnya menghabiskan segelas coklat panas untuk menghangatkan tubuh. Cuaca memang tidak terduga. Begitu kami mulai memasuki Cipanas ternyata cuaca di sana lumayan panas. Kontras dengan sisi Puncak yang masuk wilayah Bogor. Agaknya julukan kota hujan masih berlaku di sana.

Jalan sempit, berliku dan terjal menghantarkan kami menuju lereng Gunung Gede - Pangrango. Tujuannya ke Kawasan Agropolitan yang letaknya persis di lereng gunung. Selly dan Ikhsan yang sebelumnya pernah melakukan penelitian di sana segera memesan satu vila di tengah kebun sayur yang hijau, di lereng gunung yang eksotis. Dari sana kami bisa melihat lekuk gunung dengan jelas, juga indahnya lembah yang dipenuhi sawah dan rumah.

Setelah istirahat sejenak, kami kemudian menelusuri jalan setapak. Menyapa petani sayuran yang sedang panen. Beragam komoditi sayuran di tanam di sana. Ada juga perkebunan bunga yang menambah semerbak perjalanan. Aroma pedesaan menyegarkan nafas kami yang sebelumnya sesak oleh polusi. Menjelang senja, kabut mulai turun diiringi gerimis yang sekilas mirip salju. Menyelimuti tubuh kami dengan belaiannya yang lembut, khas alam pegunungan.

Untung segera sampai vila. Kalau tidak, barangkali kami terjebak di gazebo tepi jurang tempat kami menikmati pemandangan alam. Padahal jauhnya, sekitar 500 meter dari vila. Tidak terbayang bagaimana rasanya terjebak di bawah hujan dan kabut dengan udara dingin selama berjam-jam. Apalagi si kecil Nabilah, kasian sekali dia kalau itu sampai terjadi.

Tak ada yang mandi sore hari! Dinginya udara dan air pegunungan cukup menjadi alasan. Malam pun merambat perlahan-lahan, sehingga lampu-lampu di lembah mulai terlihat seperti ribuan kunang-kunang. Perut mulai keroncongan. Beberapa ekor ayam dan sekarung jarung sudah menunggu. Maka Ikhsan sang kepala suku segera menyiapkan alat pemanggang di depan vila. Namun karena angin terlalu kencang, acara bakar-bakar terpaksa dilakukan di dapur vila.

Ayam bakar, sate ayam dan jagung bakar cukup untuk menenangkan perut. Rasanya pun tidak kalah dengan buatan warung makan di sekitar kampus. Malah terasa lebih nikmat, apa karena dingin ya? Entahlah, yang jelas makanan itu tak tersisa. Segelas kopi melengkapi kehangatan suasana malam itu. Suara gitar menambah suasana menjadi meriah, mengalahkan desahan angin yang bergesekan dengan dedaunan.

Di lembah, kembang api beberapa kali memercik ke angkasa. Menebar pesona di antara lampu-lampu. Kami melihat itu, sambil mendendangkan lagu-lagu yang membuat hanyut pada suasana riang gembira. Sampai gerimis tiba dan memaksa kami kembali ke vila. Hasrat ingin bermain domino, tapi lupa membawa kartunya. Warung-warung sudah tutup. Terpaksa kami menjemput kantuk dengan bercanda: haha-hihi.

Waktu tidur pun tiba. Tapi tidak berlangsung lama, karena teriakan angin segera membangunkan kami. Malam itu hujan badai membuat risau, suaranya mendesau. Membuat cemas, sebab akhir-akhir ini bencana terjadi di mana-mana. Kami takut vila kayu itu tidak terlalu kuat menahan terjangan badai, lalu roboh. Juga lereng gunung yang gundul itu bila tiba-tiba longsor dan membungkus tubuh kami. Tak ada yang tidur malam itu, sampai menjelang pagi ketika angin mulai tenang: dan kami pun senang, ternyata Tuhan masih melindungi kami.

Nasi goreng, jagu bakar dan segelas kopi menyambut pagi kami dengan hangat. Sebab matahari sampai tengah hari tak juga menyapa. Kalah oleh kabut yang menyelimuti gunung. Gerimis turun berkali-kali, menjebak kami di dalam vila. Sebab tak bisa kemana-mana, bayangan indahnya sunrise dari lereng gunung hilang sudah. Menjelang siang, kami pun pulang…

BEBERAPA waktu terakhir ini aku selalu merindukan senja. Entah mengapa, kadang aku juga membencinya. Senja selalu mengingatkanku pada bayangan perempuan yang berkelebat di setiap putaran jarum jam. Tapi perempuan itu tak pernah bisa kusentuh, apalagi kucumbu atau entah kuapakan lagi. Hanya suaranya yang selalu singgah di ceruk telingaku yang kian lebar. Aku kadang juga tertawa sendiri, entah gila atau sekedar terlena oleh sandiwara yang selalu kumainkan. Tapi bukan sandiwara percintaan seperti yang sering kulihat di sinetron-sinetron picisan.

Entah sejak kapan perselingkuhan ganjil ini kumulai. Tiba-tiba segalanya mengalir begitu saja. Mulai dari kamar mandi sampai di atas ranjang, bayangan perempuan––yang tak pernah melepas gaunnya––itu selalu mengikutiku. Sesekali mengirimiku selimut atau sekedar mengucapkan, “Good night, have a nice dream…” Kadang menyita waktu tidurku yang biasanya kumulai saat jarum jam di atas kepala. Aku merindukannya, tapi juga membencinya. Suatu kebencian karena selalu merindukannya.

“Siapakah sih kamu?” kataku suatu senja entah ke berapa.
“Kamu tak perlu tahu siapa diriku, seperti aku tak pernah mau tahu siapa kamu!” Seperti biasa, selesai bicara dia selalu menyelipkan seikat bunga di celah-celah jantungku sampai tembus ke paru paru. Bunga yang tak berwarna dan tak pernah kering.

“Apa maumu?” hardikku.
“Mauku seperti maumu juga. Tak usah marah! Nikmati saja permainan ini. Aku sengaja datang untuk menemanimu. Maaf tapi kamu tak bisa merabaku, seperti kamu meraba huruf-huruf di keyboard atau di kaca monitor. Kamu juga tidak bisa menghayalkanku, seperti saat kamu membuat cerita-cerita.”
“Apakah kamu sebangsa iblis atau sejenisnya?”
“Jangan kasar! Belum saatnya kamu tahu siapa aku. Mungkin aku lebih manusia dari pada kamu!!!”

Tut tut tut… Suaranya lenyap ditelan gerimis. Malam mulai merangkak dan cahaya kuning kemerah-merahan semakin sirna. Perempuan itu juga menghilang. Selama beberapa hari. Tak pernah lagi kudengar suaranya. Tak ada lagi yang menemaniku makan atau menghabiskan malam di sekitar taman kota sambil menikmati jagung bakar. Aku mulai membencinya, karena baru kusadari senja terasa asing tanpa kehadirannya. Kemudian dia muncul lagi, juga saat senja. Saat langit berwarna kemerah-merahan. Saat matahari kuning bulat seperti telor mata sapi.
Sejak itu aku menamainya ‘perempuan senja’, karena memang dia sering datang saat senja. Hanya sesekali tengah malam atau bahkan pagi-pagi sekali. Dia juga sudah mulai mengucapkan, “Selamat pagi, bagaimana tidurnya semalam?”. Seperti biasa aku selalu mengatakan bangun kesiangan, karena semalaman terlalu asyik mengeksploitasi imajinasi.

“Jadi kamu lagi-lagi tidak bisa menikmati menyembulnya fajar?”
“Yap!”
“Sungguh sial nasibmu!”
“Tapi aku selalu bisa menikmati senja!”
Dia tertawa. Melengking kemudian hening…
Aku pernah mencoba mencarinya di sekitar terminal dan toko-toko swalayan. Siapa tahu perempuan itu ada disana, sedang menunggu taksi atau menawar pakaian. Pernah juga kucari di diskotik atau panti pijat, tapi dia memang benar-benar tidak ada. Dia bisa muncul kapan saja dan menghilang semaunya.

Kemudian setiap senja aku juga sering mampir ke kantor-kantor dan menanyakan perempuan itu. “Mencari siapa?” tanya seorang satpam yang mungkin curiga melihat aku modar-mandir di depan kantornya.
“Mencari seorang teman. Apakah anda mengetahuinya?”
“Siapa namanya dan bagaimana ciri-cirinya?”
“Saya sendiri tak pernah tahu. Tapi dia seorang perempuan, yach seorang perempuan, aku jelas sekali mengenal suaranya.”
“Perempuan di sini banyak. Anda jangan main-main!” Dia menggertak.
“Aku tidak main-main!”

Kemudian aku ceritakan sedikit tentang perempuan itu. “Dia suka menemuiku saat senja. Tapi beberapa hari ini dia menghilang begitu saja.”
“Tapi Anda tidak tahu siapa dia. Ah, sudahlah lebih baik anda pulang dan mandi lalu ke dokter.” Kemudian satpam itu pergi sambil menggerutu, entah apa yang diucapkannya. Aku tak mau bertengkar dengannya. Mungkin aku memang harus periksa ke psikiater karena terlalu sering menyendiri sehingga berhalusinasi tidak karuan. Tapi ini bukan suatu kebohongan indah.
***

Sekarang entah senja yang keberapa aku tidak tahu, mungkin sudah ratusan senja kulalui bersama perempuan itu. Perempuan yang kemudian menjelma menjadi teman, pacar atau entah apa lagi.

Seorang teman, setelah mengetahui permainan ganjil itu malah menamainya ‘gadis digital’. “Lho kok?” kataku heran. “Itu wajar saja terjadi di era globalisasi teknologi. Kamu kalau ingin punya banyak pacar tak perlu susah-susah. Tinggal buka internet,” katanya sambil menghisap rokok mild dan menghembuskan asapnya ke atas.

“Terus kalau aku ingin kencan?” kataku.
“Alahhh, itu malah lebih gampang. Asal kamu punya pulsa sudah beres,” katanya sambil tertawa ngakak.
Saat itu ponselku berdering. Ada pesan masuk. “Selamat sore… udah mandi belum udah makan belum jangan tidak mandi lagi ya bauu…..dan jangan lupa sembahyang ya nanti siap kamu mandi aku hubungi lagi. Mmmuuuuuah….” Sebuah pesan singkat yang membuatku terbang ke langit. Perempuan itu lagi. Kemudian sayup-sayup terdengar sebuah lagu Sheila On 7 dari tape recorder tetangga, beriringan dengan adzan maghrib.***

Kampoeng Marpoyan, Januari 2004
(Cerita picisan ini terinspirasi oleh seorang teman yang tidak pernah menampakkan wujudnya)
NB: tulisan ini sengaja saya masukkan ke rubrik solilokui karena lebih tepat berada di sini

Beberapa Komentar yang Menyertai di cybersastra.net:

Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri (nilai: 1)
oleh dydy pada 04/03/2005
(biodata Kirim Pesan) http://
Emmm, terus terang aku gak tahu persis siapa "si perempuan senja" itu, klo boleh dibilang aku bingung dg tokoh ini. Klo penafsiranku dia tuh kayak semacam obsesi, ato bayangan seseorang yg pernah hadir tapi tak terjangkau karna sesuatu dan lain hal. Bagaimanapun cerita ini sebenernya asik disimak cuman mungkin terlalu pendek sehingga karakternya gak keliatan...next time mungkin diexplorasi lagi tuh karakter sampe kenapa dia begitu terobsesi dg "perempuan senja"
Dy.
NB. Klo cuman obsesi kok bisa sms ya?


[ Fasilitas komentar hanya untuk anggota. Silakan daftarkan diri, gratis. ]


Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri oleh Embi pada 07/03/2005

Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri (nilai: 1)
oleh rasiani pada 05/03/2005
(biodata Kirim Pesan)
cerita yang bagus.
Aneh, aku juga kadang-kadang merasa punya seorang teman khayalan. Mungkin itu karena aku lebih senang menyendiri. (hehehe jadi curhat). Yang jelas cerpennya ringan tapi menarik.


[ Fasilitas komentar hanya untuk anggota. Silakan daftarkan diri, gratis. ]


Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri oleh Embi pada 07/03/2005

Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri (nilai: 1)
oleh r3y pada 24/03/2005
(biodata Kirim Pesan) http://www.awanmemetikbintang.com
Good n sometimes we need someone beside us, its normal. Mengingatkanku akan seorang teman yg hampir tak pernah ketinggalan menatap senja dari atas atap rumah kosnya, senja yang terbenam menyentuh air laut. Dan Memang banyak orang yang terinspirasi dalam sebuah kata 'senja', menyimpan seribu cerita, keindahan, kenangan dan bahkan jg khayalan. Mengingatkan kita pada seno yang hampir pada setiap ceritanya tak lepas dari sosok senja.


[ Fasilitas komentar hanya untuk anggota. Silakan daftarkan diri, gratis. ]


Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri (nilai: 1)
oleh Em-Gusti pada 25/09/2005
(biodata Kirim Pesan) http://
saya tidak bisa mengartikan seperti apa sih perempuan senja. apalagi banyak pendiskripsian yang bermetafor. tapi cerpen ini lumayan bagus!!!


[ Fasilitas komentar hanya untuk anggota. Silakan daftarkan diri, gratis. ]


Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri (nilai: 1)
oleh nduk pada 12/10/2005
(biodata Kirim Pesan) http://
emmm... mau tanya aja. apa mas badri ini yang temannya mbak retno.sori emang gak penting, tapi cuma mau mastiin aja.
thanks....
mengenai cerpen ini, ya...emang realitanya peristiwa seperti itu banyak terjadi.


[ Fasilitas komentar hanya untuk anggota. Silakan daftarkan diri, gratis. ]


Re: Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri - Cerpen M Badri oleh Embi pada 20/10/2005
Baca di cybersastra